WARNING: SPOILERS AHEAD!
"Tell me, do you bleed?"
Dialog favorit saya dalam film ini. Pertama kali saya menonton trailer Batman V Superman, saya sudah memiliki ekspektasi yang tinggi terhadap film ini. Saya suka tema dark yang menjadi ciri khas dari superhero DC, dibandingkan dengan superhero Marvel yang cenderung "ringan". Contohnya saja pada film reboot pertama Superman, dibuat dengan nuansa yang menurut saya dark dan cukup artsy. Saya mengerti hal ini bukan merupakan everyone's cup of tea, sehingga banyak orang tidak menyukai Man of Steel dan tidak mendapatkan esensi dari film tersebut (saya suka Man of Steel, in some ways). Entahlah, mungkin stigma masyarakat tentang film superhero adalah seorang pahlawan dengan kekuatan super menyelamatkan dunia dari musuh dengan kekuatan super yang ingin menghancurkan umat manusia, titik. Hal yang menarik dari premis BvS adalah bagaimana masyarakat bereaksi ketika muncul sosok alien dengan kekuatan super layaknya dewa. Dimana dia bisa menyelamatkan atau menghancurkan umat manusia dengan mudahnya. Beberapa akan menganggap sosok itu sebagai penyelamat, namun orang-orang rasional (termasuk Bruce Wayne) akan menganggap sosok itu adalah sosok yang dapat mengancam eksistensi manusia. Ditambah lagi pada BvS memperlihatkan sisi lain dari pertarungan akhir Superman melawan Zod, sisi manusia biasa yang merasakan collateral damage dari pertarungan tersebut. Tentu hal ini belum pernah saya lihat dilakukan pada film superhero, dan membuat saya menaruh harapan yang tinggi terhadap film ini.
Time goes by.
Akhirnya film ini sampai di bioskop tanah air. Tanpa pikir panjang saya menonton film ini. Sebagai informasi tambahan, saya menonton film ini dua kali.
Diluar itu, saya sangat suka pertarungan antara Batman melawan Superman (armored Batman kicking Supe's ass, that's the point, no?) Tapi ternyata Doomsday muncul sebagai musuh terakhir yang menyatukan mereka dan Wonder Woman. Alangkah lebih baik jika tidak perlu ada Doomsday yang muncul out of nowhere, dan lebih mengangkat bagaimana Batman harus melawan si manusia super. Hal yang tidak bisa tidak saya bahas adalah bagaimana konyolnya cara Luthor mengadu domba Batman dan Superman. Come on, he's "the" Batman who's only a superhero because he got brain, money, and balls. Lalu Superman yang menghilang begitu saja ke Himalaya, kembali seketika dengan baju latex-nya saat Lois hampir jatuh ke aspal. Namun dia tidak dapat mengetahui dimana ibunya diculik. Oh, mungkin dia tidak bisa mendengar suara ibunya seperti dia mendengar Lois. Andaikan saja pertarungan mereka lebih jelas substansinya seperti pada film animasi The Dark Knight Returns. Pada film tersebut Batman melawan Superman untuk menunjukkan dia bisa saja menghabisi Superman, namun dia tidak melakukannya (karena memang tidak bisa) dan menggunakan obat pembuat serangan jantung buatan untuk memalsukan kematiannya.
Kesimpulan saya, film ini tidak bisa dibilang film "berat", namun juga terlalu "berat" untuk dapat disukai semua orang. Pertanyaan selanjutnya, apakah DC akan meneruskan membuat film dengan style seperti ini? Banyak faktor yang mempengaruhi keputusan tersebut, seperti bagaimana pasar bereaksi. Saya berharap superhero DC tetap menjaga identitasnya sebagai superhero untuk orang yang sudah dewasa, meskipun ada harga mahal yang harus dibayar untuk itu. Eventually, they want to taste Marvel's cookie, no?
Fakhri Ihsan,
April 11, 2016
No comments:
Post a Comment